Waroeng-Edukasi adalah sebuah blog bagi para insan pendidikan yang ingin berbagi ilmu dan informasi. Mengapa harus berbagi ilmu dan informasi? Pada dasarnya manusia hidup tidak seorang diri...manusia menjadi pintar juga bukan karena dirinya sendiri...pasti membutuhkan orang lain maupun sarana yang bisa dipakai atau digunakan.
Dengan dasar itulah, Waroeng-Edukasi hadir bagi kita semua...paling tidak bisa dijadikan tempat berbagi, khususnya di bidang Pendidikan dan IT. Anda bisa berperan untuk mengisi konten maupun informasi-informasi tentang Pendidikan dan IT (via e-mail: aguz3arzo@gmail.com), sekaligus bisa memanfaatkan atau mengambil dari yang sudah disediakan oleh Waroeng-Edukasi.
Selamat berbagi!!! GBU!

Ujian Nasional (UN) vs Hujatan Nasional...

Putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) bernomor 2596/K.PDT/2008 dengan termohon warga negara, pemerhati pendidikan, wakil orangtua korban Ujian Nasional (UN) tahun 2005-2006 sebanyak 58 orang memberi warna baru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Putusan MA tersebut ditetapkan Senin, 14 september 2009 dan langsung menimbulkan pro dan kontra. Beberapa hari ini berita tersebut banyak menghiasi mass media, baik cetak maupun elektronik. Pada akhirnya membuat saya untuk ikut ambil bagian berkomentar dan sekedar memberi evaluasi dan analisa meskipun sangat sederhana. Semoga bermanfaat!

Kata "ujian" memang menjadi polemik sejak jaman dulu. Ketika saya Sekolah Dasar sampai di Perguruan Tinggi, jika mendengar yang namanya ujian pasti ada perasaan yang mendebarkan. Selalu dibayangi dengan pertanyaan apakah saya bisa lulus atau tidak. Akan tetapi saat ini, mungkin perasaan kuatir itu dirasakan lebih hebat oleh anak-anak kita. Bayangkan saja, ketika mereka yang ada di SMP atau SMA menempuh pendidikan selama 3 tahun dinyatakan lulus atau tidak hanya oleh beberapa mata pelajaran yang di UN kan, dengan syarat yaitu: memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Pertanyaannya adalah, apakah persyaratan kelulusan UN yang ditetapkan pemerintah cukup berat?Bagi sekolah-sekolah perkotaan dengan standar mutu yang cukup memadai (sarana dan prasarana, kualitas guru dan sumber dana) mungkin memandang syarat kelulusan UN sebagai syarat yang bisa dicapai. Akan tetapi bagi sekolah-sekolah di daerah yang belum tersentuh pemerintah dalam hal sarana dan prasarana tentu akan berat mengejar syarat kelulusan UN. Sebagai salah satu contoh beberapa waktu yang lalu saya bertemu guru-guru SMP Kabupaten/Kota se-Jateng, dimana saya memiliki kesempatan untuk 'berbagi' dengan mereka. Kesimpulannya adalah: bahwa banyak guru-guru di daerah yang merasa tertekan karena harus mempunyai strategi yang jitu agar anak-anak didiknya lulus UN dengan prosentase yang tinggi. Adapun langkah-langkah yang dilaksanakan adalah dengan pemberian drill latihan soal-soal secara rutin bagi siswa, yang notabene banyak sekali 'mengorbankan' pelajaran atau kompetensi lainnya yang tidak di UN kan! Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana kualitas lulusan siswa-siswi kita saat ini? Meskipun mereka lulus UN, tetapi mereka adalah generasi-generasi bangsa yang rapuh, karena banyak kompetensi yang tidak diberikan secara utuh selama menempuh pendidikan pada jenjangnya! Mereka adalah generasi yang 'terlalu banyak mendapat tekanan' baik dari sekolah, guru bahkan dari orang tua mereka.

Apakah UN masih dibutuhkan? Bagi saya UN masih sangat dibutuhkan sebagai salah satu indikator keberhasilan siswa dalam menempuh pendidikan pada jenjangnya. (nb: tentunya indikator kelulusan tidak hanya melalui UN saja) Tetapi yang lebih penting adalah saat ini Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) harus lebih fokus dalam menjalankan seluruh program-programnya, apalagi dengan anggaran 20% dari APBN pasti akan lebih efektif untuk mewujudkan atau merealisasikannya. Contoh program Depdiknas antara lain, (1) Pemerataan dan perluasan akses pendidikan, (2) peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing keluaran pendidikan dan (3) penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan. Jika anggaran yang cukup besar benar-benar direalisasikan sampai dengan terwujudnya pemerataan pendidikan baik di pusat maupun di daerah dimana ada kesamaan kualitas/mutu pendidikan, pemerataan sarana dan prasarana, maka sebenarnya dunia pendidikan kita tidak akan mempermasalahkan UN dengan berbagai aturan dan syarat-syaratnya. Saat ini, ketika UN masih menjadi polemik, bagaimana nasib pendidikan kita ke depan?

Selengkapnya...

m-Learning, Belajar Kapanpun dan Dimanapun...

Luar biasa jika judul artikel kali ini benar-benar dapat terwujud..."belajar kapan pun dan dimanapun...!!!" Ya, itulah isu yang saat ini semakin marak berhubungan dengan perkembangan media pembelajaran berbasis TIK. Dengan bertambah majunya teknologi tentunya semakin terbuka bagi dunia pendidikan untuk memanfaatkan peluang yang ada untuk meningkatkan kualitasnya. Salah satu yang dikembangkan adalah pembelajaran online (atau yang sering disebut e-Learning) yang pada akhirnya berkembang lagi menjadi berbagai model seperti, Multimedia Pembelajaran Interaktif online (MPI Online), Pusat Sumber Belajar online (PSB Online), Pembelajaran berbasis Web (menggunakan moodle) dan lain-lain.
Salah satu model pengembangan sistem e-Learning yang saat ini layak dikembangkan adalah Mobile Learning (m-Learning) yang mengarah ke penggunaan device /berbasis handphone. Hal ini didasarkan pada fakta yang ada bahwa sebagian besar siswa-siswi di Indonesia memiliki handphone. Namun sayangnya masih banyak pengguna handphone yang belum memanfaatkannya sebagai media pembelajaran.

Tingkat penetrasi perangkat bergerak yang sangat tinggi, tingkat penggunaan yang relatif mudah, dan harga perangkat yang semakin terjangkau, dibanding perangkat komputer personal, merupakan faktor pendorong yang semakin memperluas kesempatan penggunaan atau penerapan mobile learning sebagai sebuah kecenderungan baru dalam belajar, yang membentuk paradigma pembelajaran yang dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun.
Mobile Learning didefinisikan oleh Clark Quinn (Quinn 2000) sebagai : “The intersection of mobile computing and e-learning : accessible resources wherever you are, strong search capabilities, rich interaction, powerful support for effective learning, and performance-based assessment. E-Learning independent of location in time or space”. Berdasarkan definisi tersebut maka mobile learning merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pada konsep pembelajaran tersebut mobile learning membawa manfaat ketersediaan materi ajar yang dapat di akses setiap saat dan visualisasi materi yang menarik. Istilah M-Learning atau Mobile Learning merujuk pada penggunaan perangkat genggam seperti PDA, ponsel, laptop dan perangkat teknologi informasi yang akan banyak digunakan dalam belajar mengajar, dalam hal ini kita fokuskan pada perangkat handphone (telepon genggam). Tujuan dari pengembangan mobile learning sendiri adalah proses belajar sepanjang waktu (long life learning), siswa/mahasiswa dapat lebih aktif dalam proses pembelajaran, menghemat waktu karena apabila diterapkan dalam proses belajar maka mahasiswa tidak perlu harus hadir di kelas hanya untuk mengumpulkan tugas, cukup tugas tersebut dikirim melalui aplikasi pada mobile phone yang secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas proses belajar itu sendiri.

Era konvergensi sekarang mengarah kepada mobile based. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perangkat mobile yang bisa digunakan untuk mengakses banyak hal yang biasanya menggunakan komputer, contoh: searching lewat google, e-mail dengan yahoo, chatting dengan YM, social network dengan facebook, dll.































Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) banyak menciptakan terobosan baru dalam pembelajaran. Salah satu contoh adalah pembelajaran berbasis mobile (device by handphone), yaitu: Mobile Learning atau m-Learning!!!
Menurut Clark Quinn, m-Learning memiliki karakteristik sebagai berikut:
* Merupakan bagian dari e-Learning, memanfaatkan TIK elektronik dan digital
* Dapat diakses dimanapun dan kapanpun
* Menyediakan fasilitas knowledge sharing dan visualisasi pengetahuan yang atraktif dan interaktif
* Tidak semua materi pengajaran cocok memanfaatkan m-Learning; dan memiliki ukuran file yang terbatas

Alasan mengapa menggunakan m-Learning adalah dikarenakan penggunaannya yang mudah, murah, layanan akses yang semakin cepat karena perkembangan fitur yang semakin canggih.
Untuk mendapatkan materi ini dalam bentuk presentasi, bisa Anda download di bawah ini:
File: m-edukasi.rar

(Artikel ini dipresentasikan pada Festival e-Pendidikan yang diselenggarakan oleh Pustekkom Depdiknas, 28 Juli 2009)

Selengkapnya...

JABATAN FUNGSIONAL PENGEMBANG TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

by : Dr. Purwanto

Jakarta, 23 Maret 2009. Khabar gembira bagi teman-teman yang bekerja dan kerkecimpung dalam bidang Teknologi Pembelajaran/Teknologi Pendidikan (TP), dengan telah terbitnya Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor: PER/2/M.PAN/3/2009 tentang Jabatan Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran dan Angka Kreditnya, tertanggal 10 Maret 2009. Terbitnya Permen tersebut menandai babak baru bagi lahirnya profesi Pengembang Teknologi Pembelajaran yang telah lama diperjuangkan oleh teman-teman penggiat Teknologi Pendidikan (TP) khususnya yang ada di Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (PUSTEKKOM). Bagi lulusan TP lahirnya profesi atau jabatan fungsional Pengembang TP ini merupakan harapan baru untuk lebih meningkatkan pengabdiannya sebagai pegawai negeri. Sebagaimana kita ketahui ditetapkannya Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil adalah dalam rangka pengembangan profesionalisme dan pembinaan karier PNS serta peningkatan mutu pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan seperti diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional PNS. Tentu saja dengan jabatan fungsional ini teman-teman PNS akan memperoleh tunjangan jabatan, dan karena jabatan Pengembang TP ini masuk kategori atau jenjang ahli, mudah-mudahan besarnya tunjangan akan memadai. Besarnya tunjangan ini masih diperjuangkan melalui terbitnya Peraturan Presiden (Perpres)

Jabatan Pengembang TP ini juga menambah jenis jabatan fungsional dalam rumpun pendidikan lainnya, dan memberi peluang lebih besar bagi lulusan jurusan TP. Jabatan ini adalah jabatan karier yang hanya dapat diduduki oleh seseorang yang berstatus PNS. Tugas pokok Pengembang TP adalah melaksanakan analisis dan pengkajian sistem/model teknologi pembelajaran, perancangan sistem/model teknologi pembelajaran, produksi media pembelajaran, penerapan sistem/model dan pemanfaatan media pembelajaran, pengendalian sistem/model pembelajaran, dan evaluasi penerapan sistem/model dan pemanfaatan media pembelajaran. Dengan demikian setiap PNS yang bertugas di Pustekkom, Balai Pengembang Media, Balai Tekkom, dan menjalankan tugas seperti itu maka PNS yang bersangkutan dapat menduduki jabatan Pengembang TP. Jabatan Pengembang TP juga terbuka bagi PNS yang bekerja di Institusi diklat, pusat sumber belajar (PSB), yang ada di sekolah, universitas atau lembaga sejenis baik di lingkungan Depdiknas atau instansi lain. Selamat atas lahirnya jabatan fungsional pengembang TP, semoga diikuti sukses berikutnya.

Selengkapnya...

Lesson Study

Masih ingatkah dengan pola Belajar Kelompok?
Sewaktu saya di Sekolah Dasar, seringkali guru memotivasi saya dan teman-teman untuk belajar kelompok (belajar bersama antara 3-5 orang). Pada saat itu saya rasakan benar manfaatnya, apalagi jika dalam kelompok tersebut ada teman saya yang pandai. Maklumlah, sewaktu kecil memang saya 'kurang' pandai. Dari aktivitas belajar kelompok tersebut, saya mulai merasakan semangat belajar yang tinggi dari teman-teman yang lain. Mulai dari situlah saya merasakan aroma belajar yang sesungguhnya...(akhirnya bisa lulus dengan presatsi ranking 3 di SD).
Nah, gambaran seperti itulah kira-kira Lesson Study!

Apa Lesson Study?
Lesson Study adalah suatu proses kolaboratif dimana sekelompok guru mengidentifikasi suatu masalah pembelajaran, merancang suatu skenario pembelajaran (yang meliputi kegiatan mencari buku dan artikel mengenai topik yang akan dibelajarkan), membelajarkan siswa sesuai skenario (salah seorang guru melaksanakan pembelajaran sementara yang lain mengamati), mengevaluasi dan merevisi skenario pembelajaran, membelajarkan lagi skenario pembelajaran yang telah direvisi, mengevaluasi lagi pembelajaran dan membagikan hasilnya dengan guru-guru lain.
Lesson study merupakan salah satu bentuk pembinaan guru (in-service) yang dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Lesson study dilakukan diwilayah guru mengajar dengan menggunakan kelas dalam lingkungan nyata, sehingga akan membiasakan guru bekerja secara kolaboratif baik dengan guru bidang studi dan dengan guru diluar bidang studi, bahkan dengan masyarakat. Lesson Study merupakan kolaboratif antara guru dalam menyusun rencana pembelajaran beserta research lessonnya, pelaksanaan KBM dikelas yang disertai observasi dan refleksi. Dengan lesson study para guru dapat leluasa meningkatkan kinerja dan keprofesionalannya yang akhirnya dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan meghasilkan siswa yang berkualitas tinggi.
Lesson Study yang dalam bahasa Jepang disebut Jugyokenkyu adalah bentuk kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru/ sekelompok guru yang bekerja sama dengan orang lain (dosen, guru mata pelajaran yang sama/ guru satu tingkat kelas yang sama, atau guru lainya), merancang kegiatan untuk meningkatkan mutu belajar siswa dari pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru dari perencanaan pembelajaran yang dirancang bersama/sendiri, kemudian di observasi oleh teman guru yang lain dan setelah itu mereka melakukan refleksi bersama atas hasil pengamatan yang baru saja dilakukan. Refleksi bersama merupakan diskusi oleh para pengamat dan guru pengajar untuk menyempurnakan proses pembelajaran dimana titik berat pembahasan pada bagaimana siswa belajar, kapan siswa belajar, kapan siswa mulai bosan mendapatkan pengetahuan dan kapan siswa mampu menjelaskan kepada temannya dan kapan siswa mampu mengajarkan kepada seluruh kelas. (Ridwan Johawarman, 2006).
Didalam peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Bab IV pasal 19 ayat 1 dinyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi siswa. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran seorang guru dituntut untuk dapat memiliki sebuah pendekatan, metode, dan teknik-teknik tertentu yang dapat menciptakan kondisi kelas pada pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Sehingga pada akhirnya akan diperoleh kondisi kelas yang termotivasi , aktivitas yang tinggi serta hasil belajar yang memuaskan. Lesson Study dapat dijadikan jembatan untuk meniti kearah cita-cita proses pembelajaran yang ideal sebagaimana tercantum dalam Standar Nasional Pendidikan diatas.

Mengapa Lesson Study?
Lewis (dalam Mucthar Abdul Karim, 2006) menyatakan bahwa Lesson Study dipilih dan diimplementasikan karena beberapa alasan. Pertama, Lesson Study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas belajar dan mengajar serta pelajaran dikelas. Hal itu benar, karena :
Pertama,
1. Pengembangan Lesson Study dilakukan dan didasarkan pada hasil ”sharing” pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktek dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru.
2. Penekanan mendasar pada suatu Lesson Study adalah para siswa memiliki kualitas belajar.
3. Tujuan pelajaran dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pebelajaran dikelas.
4. Berdasarkan pengalaman riel di kelas, Lesson Study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran.
5. Lesson Study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran.
Kedua,
Lesson Study yang di desain dengan baik akan menghasilkan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan Lesson Study para guru dapat:
1. Menentukan tujuan pembelajaran (lesson) satuan (unit) pelajaran, dan mata pelajaran yang efektif.
2. Mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa.
3. Memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru.
4. Menentukan tujuanjangka panjang yang akan dicapai para siswa.
5. Menentukan pelajaaran secara kolaboratif.
6. Mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa.
7. Mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan.
8. Melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya.

Jadi, Lesson Study di pilih sebagai salah satu cara untuk meningkatkan proses pembelajaran, dimana seorang guru mengajak kerjasama guru yang lain. Kerjasama tersebut dimulai dari merancang pembelajaran, melaksanakan dan mengamati proses pembelajaran, serta melakukan diskusi/ refleksi terhadap pelajaran yang dilakukan. Istilah populer dalam Lesson study adalah plan-do-see- reflektion. Ketiga hal tersebut yang merupakan inti dari Lesson Study.

Tentang bagaimana dan hal-hal yang berhubungan dengan Lesson Study, bisa Anda download file disini.

Selengkapnya...

7 Langkah Mudah Membuat Multimedia Pembelajaran


by Romi Satria Wahono

Berikut ini tips untuk mengembangkan multimedia pembelajaran. Ada 7 langkah yang perlu diperhatikan, seperti yang tertulis dibawah ini…

1. TENTUKAN JENIS MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
Perhatikan dengan benar, yang akan kita buat itu apakah alat bantu kita untuk mengajar (presentasi) ke siswa atau kita arahkan untuk bisa dibawa pulang siswa alias untuk belajar mandiri di rumah atau sekolah. Jenis multimedia pembelajaran menurut kegunannya ada dua:

a. Multimedia Presentasi Pembelajaran: Alat bantu guru dalam proses pembelajaran di kelas dan tidak menggantikan guru secara keseluruhan. Berupa pointer-pointer materi yang disajikan (explicit knowledge) dan bisa saja ditambahi dengan multimedia linear berupa film dan video untuk memperkuat pemahaman siswa. Dapat dikembangkan dengan software presentasi seperti: OpenOffice Impress, Microsoft PowerPoint, dsb.

b. Multimedia Pembelajaran Mandiri: Software pembelajaran yang dapat dimanfaatkan oleh siswa secara mandiri alias tanpa bantuan guru. Multimedia pembelajaran mandiri harus dapat memadukan explicit knowledge (pengetahuan tertulis yang ada di buku, artikel, dsb) dan tacit knowledge (know how, rule of thumb, pengalaman guru). Tentu karena menggantikan guru, harus ada fitur assesment untuk latihan, ujian dan simulasi termasuk tahapan pemecahan masalahnya. Untuk level yang kompleks dapat menggunakan software semacam Macromedia Authorware atau Adobe Flash. Sayangnya saya masih belum bisa nemukan yang selevel dengan itu untuk opensource-nya. Kita juga bisa menggunakan software yang mudah seperti OpenOffice Impress atau Microsoft PowerPoint, asal kita mau jeli dan cerdas memanfaatkan berbagai efek animasi dan fitur yang ada di kedua software terebut.

2. TENTUKAN TEMA MATERI AJAR
Ambil tema bahan ajar yang menurut kita sangat membantu meningkatkan pemahaman ke siswa dan menarik bila kita gunakan multimedia. Ingat bahwa tujuan utama kita membuat multimedia pembelajaran adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa. Jangan terjebak untuk memindahkan buku ke media digital, karena ini malah mempersulit siswa. Ketika guru biologi ingin menggambarkan sebuah jenis tumbuhan supaya bisa dipahami siswa, dan itu sulit karena guru tidak bisa nggambar di komputer, dsb, maka ya jangan dilakukan. Alangkah lebih baik apabila jenis tumbuhan tersebut dibawa saja langsung ke depan kelas. Ini salah satu contoh bagaimana media pembelajaran itu sebenarnya tidak harus dengan teknologi informasi. Dalam sertifikasi guru, pemanfaatan media pembelajaran seperti pohon itu, atau kecoak dikeringkan, dsb tetap mendapatkan poin penilaian yang signifikan.

3. SUSUN ALUR C
ERITA (STORYBOARD)
Susun alur cerita atau storyboard yang memberi gambaran seperti apa materi ajar akan disampaikan. Jangan beranggapan bahwa storyboard itu hal yang susah, bahkan point-point saja asalkan bisa memberi desain besar bagaimana materi diajarkan sudah lebih dari cukup. Cara membuatnya juga cukup dengan software pengolah kata maupun spreadsheet yang kita kuasai, tidak perlu muluk-muluk menggunakan aplikasi pembuat storyboard profesional. Untuk storyboard sederhana, saya berikan contoh karya pak ismudji dari SMA Bontang, Kaltim (ismudji-storyboard.pdf). Sedangkan yang agak kompleks, bisa dilihat dari yang dibuat teman-teman di Brainmatics dan IlmuKomputer.Com untuk konten Rekayasa Perangkat Lunak (rpl-storyboard.pdf).

4. MULAI BUAT SEKARANG JUGA!
Jangan menunda atau mengulur waktu lagi, buat sekarang juga! Siapkan Openoffice Impress atau Microsoft PowerPoint anda. Mulai buat slide pertama, isikan bahan ajar yang ingin anda multimedia-kan. Terus masukkan bahan ajar anda di slide-slide berikutnya, mulai mainkan image, link dengan gambar, suara dan video yang bisa kita peroleh dengan gampang di Internet. Bisa juga memanfaatkan situs howstuffworks.com untuk mencari ide. Jangan lupa juga bahwa banyak pemenang-pemenang lomba pengembangan multimedia pembelajaran yang hanya bermodal Openoffice Impress atau PowerPoint sudah cukup membuat karya yang berkualitas tinggi. Gambar disamping saya ambil dari karya pak Teopilus Malatuni, guru SMAN 1 Kaimana Papua Barat yang dibuat dengan tool sederhana, bisa mendapatkan skor signifikan di lomba dikmenum tahun 2007. Kuncinya adalah tekun, sabar dan pantang menyerah. Tidak ada ilmu pengetahuan yang bisa didapat secara instan, semua melewati proses panjang.

5. GUNAKAN TEKNIK ATM
Terapkan metode ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi). Usahakan sering melihat c
ontoh-contoh yang sudah ada untuk membangkitkan ide. Gunakan logo, icon dan image yang tersedia secara default. Apabila masih kurang puas:
• Cari dari berbagai sumber
• Buat sendiri apabila
mampu
Saya berikan contoh bagaimana perdjoeangan mas Heru Suseno, guru fisika dari SMA Negeri 2 Madiun. Mas Heru ini dengan seriusnya menerapkan ATM dengan mencoba meniru tampilan Microsoft Encarta di tahun 2006. Tahun 2007 beliau sudah berhasil memperbaiki dan memodifikasi karya untuk selevel Encarta, tapi sudah tidak nyontek Encarta lagi.

6. TETAPKAN TARGET
Jaga keseriusan proses belajar dengan membuat target pribadi, misalnya untuk mengikuti lomba, memenangkan award, menyiapkan produk untuk dijual, atau deadline jadwal mengajar di kelas. Target perlu supaya proses belajar membuat multimedia pembelajaran terjaga dan bisa berjalan secara k
ontinyu alias tidak putus di tengah jalan. Untuk lomba dan award, paling tidak di Indonesia ada berbagai event nasional yang bisa kita jadikan target. Balai pengembangan multimedia dan dinas pendidikan nasional di berbagai daerah saat ini saya lihat mulai marak menyelenggarakan berbagai event lomba di tingkat lokal.
• Teacher Innovation (Microsoft): Sekitar Mei
• Lomba Pembuatan Multimedia Pembelajaran (Dikmenum): Sekitar Oktober
• e-Learning Award (Pustekkom): Sekitar September
• Game Technology Competition (BPKLN): Setahun 3-4 kali di berbagai universitas
• dsb

7. INGAT TERUS TIGA RESEP DARI SUCCESS STORY
Dari pengalaman menjadi juri lomba di berbagai event, saya lihat kesuksesan bapak ibu guru dalam mengem
bangkan multimedia pembelajaran bukan dari kelengkapan infrastruktur atau berlimpahnya budget yang dimiliki, tapi justru dari ketiga hal ini:
1. Berani mencoba dan mencoba lagi
2. Belajar mandiri (otodidak) dari buku-buku yang ada (perlu investasi membeli buku)
3. Tekun dan tidak menyerah meskipun peralatan terbatas
Saya berikan conto
h bagaimana pak Joko Triyono, guru kesenian dari SMA prembun berdjoeang sampai akhirnya menikmati banyak penghargaan di berbagai event. Saya ingat benar karya pertama beliau tahun 2005 berformat HTML, masih polos sekali, bahkan beberapa halaman error karena salah link. Kemudian beliau belajar dari awal menggunakan software presentasi dan akhirnya tahun 2007 beliau berhasil menghasilkan produk yang sudah siap jual dalam tema Musik Gamelan. Beliau rekam satu persatu puluhan peralatan gamelan jawa, dan dimasukkan ke multimedia pembelajaran yang beliau buat. Dahsyatnya kita bisa nanggap wayang tanpa gamelan dan gending asli, cukup dengan software itu saja, asal dimainkan banyak orang dengan masing-masing memilih satu jenis gamelan.
Tentu tidak ada kata mudah dalam berdjoeang, paling tidak 7 hal diatas adalah langkah yang cukup mudah ditempuh dan pada kenyataannya banyak yang berhasil berkarya karena tekun dan pantang menyerah mengulang-ulang 7 hal itu.
Bagi bapak dan ibu guru, selamat berdjoeang!

Selengkapnya...

UU No. 9 tahun 2009 tentang BHP dan Swasta

Pasca pengesahan UU No 9 tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan, muncul kekhawatiran dari kalangan pengelola dan pelaksana satuan pendidikan swasta, terutama dari kalangan perguruan tinggi swasta, bahwa perguruan tinggi swasta akan semakin terpinggirkan. Dalam UU BHP secara eksplisit disebutkan komitmen pendanaan pemerintah untuk BHPP, tapi tidak tertulis komitmen pendanaan untuk BHPM. Pemerintah kembali set back, sementara dalam UU No 30 tentang Sistem Pendidikan Nasional sudah dimulai semangat tidak ada lagi diskriminasi swasta dan negeri.
Akan tetapi dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dibuka ruang, bahwa masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. Sebagai konsekwensinya, masyarakat harus menyediakan modal, investasi sendiri agar satuan pendidikan yang diolahnya berjalan sesuai dengan standar nasional. Mengingat peran swasta/masyarakat ini yang sangat besar dalam memajukan pendidikan nasional, maka dalam UU Sisdiknas itu juga disebutkan, lembaga pendidikan berbasis masyarakat itu dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain dari pemerintah.
Dalam UU BHP pasal 44 ayat (2), secara eksplisit disebutkan pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan bantuan dana pendidikan pada BHPM dan BHP penyelenggara. Menurut Mendiknas, disini kata-katanya memberikan bantuan, artinya pemerintah wajib memberikan bantuan, lebih tegas lagi, bukan dapat memberikan bantuan, seperti bunyi ayat dalam UU Sisdiknas. Namanya bantuan tentu tidak total seperti negeri, kalau total lebih baik dinegerikan saja, kata bapak Menteri.

Dirjen Dikti juga menegaskan bahwa proses pembuatan Undang-Undang ini juga adalah gambaran dari kekhawatiran pihak swasta. Para anggota DPR yang terlibat dalam panja BHP dan menghasilkan UU BHP ini adalah sebagian besar adalah representasi swasta, ada yang mantan rektor PTS, pemilik-pemilik yayasan yang tentu sangat konsen dengan isu swasta ini. Rasanya tidak benar logika bahwa BHP adalah modus baru untuk membunuh swasta, karena sebagian besar penggagasnya adalah representasi swasta yang setiap kali sidang selalu membela swasta.
UU BHP hanya mewajibkan BHP pada tingkat penyelenggara bagi pihak swasta, bukan pada satuan pendidikannya dan diberikan waktu 6 tahun untuk masa transisi atau masa peralihan. Pada level penyelengara harus ada organ representasi pemangku kepentingan, organ representasi pendidik, organ audit bidang non-akademik dan organ pengelola pendidikan. Nama-nama organ tidak harus seragam seperti disebutkan, asal memiliki fungsi pokok yang sama seperti diminta UU BHP. Di tingkat penyelenggara inilah segala kebijakan satuan pendidikanya ditentukan. Interval waktu 6 tahun, masa peralihan, adalah masa yang cukup panjang untuk melakukan persiapan, melihat model-model, mempersiapkan naskah akademik dan sebagainya.
Dirjen Dikti memperlihatkan bahwa komitmen pemerintah membantu swasta tidak pernah berkurang. Dari 350 milyar dana BKM, hampir 60 persen diberikan kepada perguruan tinggi swasta. Sebagian besar beasiswa dikti yang berjumlah 170 ribu paket pada tahun 2008 ditambah 70 ribu pada tahun 2009, sebagian besar diberikan kepada mahasiswa perguruan tinggi swasta. Hibah-hibah yang dimiliki oleh Dikti, sebagian besar dimanfaatkan/direbut oleh perguruan tinggi swasta.

Selengkapnya...

PP 74/2008 Kesejukkan Baru Kaum Oemar Bakrie

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 tentang Guru telah ditandatangani Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta pada 1 Desember 2008, membawa angin sejuk bagi para guru. Khususnya, mereka yang dalam jabatannya belum memenuhi kualifikasi akademik sarjana (S1) atau Diploma IV (DIV).

Dengan PP tersebut, mereka tetap bisa mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik. Hal yang membanggakan dalam PP itu di antaranya tersurat bahwa dalam jangka lima tahun sejak berlakunya PP itu, bagi guru dalam jabatan yang belum memenuhi kualifikasi akademik S1 atau DIV dapat mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik. Syaratnya, guru sudah berusia 50 tahun, pengalaman kerja 20 tahun dan golongan IVa atau yang angka kredit kumulatifnya setara golongan IVa (pasal 66). Pengawas satuan pendidikan, selain guru diangkat sebelum berlakunya peraturan pemerintah (PP) ini diberi kesempatan mengikuti uji kompetensi dalam waktu 5 tahun guna memperoleh sertifikat pendidik tersebut (pasal 67).

Diperbolehkannya guru dalam jabatan yang belum memenuhi kualifikasi S1 untuk mengikuti uji kompetensi, memang merupakan sisi yang menyenangkan. Namun, bukan tidak mungkin nanti ada yang protes tidak adil dari guru yang sudah sarjana... :)

Download versi lengkap :
PP 74 Tahun 2008 tentang Guru.Pdf

Selengkapnya...

Mobile Learning....mengapa tidak???

Perkembangan teknologi telah menciptakan pengembangan terobosan-terobosan dalam pembelajaran. Di tengah perkembangan ini learner (pembelajar) bersinggungan dengan perangkat-perangkat teknologi komunikasi bergerak dan teknologi internet telah menjadi gelombang kecenderungan baru yang memungkinkan pembelajaran secara mobile atau lebih dikenal sebagai mobile learning (m-learning) memanfaatkan divais bergerak, khususnya telepon genggam. Kombinasi teknologi telekomunikasi dan internet memungkinkan pengembangan sistem mobile learning atau m-learning yang pada sisi klien memanfaatkan divais begerak, berinteraksi dengan sisi server, yaitu web server.

Meskipun saat ini m-learning masih berada pada tahap awal pengembangan serta relatif belum begitu mapan, namun, m-learning diperkirakan akan menjadi cukup pesat dalam jangka waktu dekat. Hal ini didukung oleh beberapa faktor berikut.
•Sarana makin banyak, murah dan canggih.
•Perkembangan teknologi wireless/seluler (2G, 2.5G, 3G, 3.5G).
•Tuntutan kebutuhan.

Faktor yang menjadi keterbatasan pemanfaatan m-learning banyak terkait dengan keterbatasan pada divais. Saat ini kebanyakan divais bergerak memiliki keterbatasan layar tampilan, kapasitas penyimpan dan keterbatasan catu daya.
m-learning juga memiliki lingkungan pembelajaran yang agak berbeda dengan e-learning atau pembelajaran konvensional. Dalam m-learning pembelajar lebih banyak memanfaatkan m-learning pada waktu luang (spare time) atau waktu idle (idle time) sehingga waktu untuk mengakses belajar juga terbatas. Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajar cukup nyaman menatap tampilan layar perangkat yang relatif kecil tersebut dalam waktu di bawah 5 menit.

Hal ini menyebabkan konten pembelajaran harus dirancang secara khusus dan tidak dapat dengan serta merta diadopsi dari modul pembelajaran e-learning atau pembelajaran tradisional.

Penelitian yang saat ini ada masih banyak meng-eksplorasi kepada aspek-aspek teknis pengembangan software dan belum mendalami aspek lain berkait masalah usabilitas maupun aspek pedagogis dan aspek-aspek lainnya, sehingga diperlukan adanya penelitian-penelitian lebih lanjut yang lebih spesifik. Penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi Java dapat dimanfaatkan sebagai salah satu enabler dari pemanfaatan m-learning. Java juga termasuk kategori software yang independen terhadap platform dan perangkat sehingga lebih banyak divais yang dapat menjalankan aplikasi Java.

Beberapa lembaga yang telah mulai mengembangkan produk pembelajaran m-learning di Indonesia antara lain:
Telematika Edukasi Indonesia (http://mlearn.teleforedu.web.id),
PPPPTK Matematika (http://mml.p4tkmatematika.com)
InhandLearning (http://inhandlearning.com).
Menyusul berikutnya adalah Balai Pengembangan Multimedia
(doakan aja ya... :))

Potensi dan Tantangan
Mobile learning merupakan salah satu alternatif yang potensial untuk memperluas akses pendidikan. Namun, belum banyak informasi mengenai pemanfaatan divais bergerak, khususnya telepon seluler, sebagai media pembelajaran. Hal ini patut disayangkan mengingat tingkat kepemilikan dan tingkat pemakaian yang sudah cukup tinggi ini kurang dimanfaatkan untuk diarahkan bagi kepentingan pendidikan

Selain itu, saat ini masih sangat sedikit upaya pengembangan konten-konten pembelajaran berbasis divais bergerak yang dapat diakses secara luas. Kebanyakan konten yang beredar di pasaran masih didominasi konten hiburan yang memiliki aspek pendidikan yang kurang serta kebanyakan adalah hasil produksi dari luar negeri yang memiliki latar budaya yang berbeda dengan negera kita. Kenyataan ini memunculkan kebutuhan akan adanya pengembangan-pengembangan konten/aplikasi berbasis divais bergerak yang lebih banyak, beragam, murah dan mudah diakses.

Selengkapnya...

Inteligensi Ganda (Multiple Intelligence)

Teori inteligensi ganda ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang psikolog perkembangan dan professor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard University Amerika Serikat. Gardner mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata. Inteligensi bukanlah kemampuan seseorang untuk menjawab soal-soal tes IQ dalam ruang tertutup yang terlepas dari lingkungannya. Akan tetapi, inteligensi memuat kemampuan seseorang untuk memecahkan persoalan yang nyata dan dalam situasi yang bermacam-macam. Seseorang memiliki inteligensi yang tinggi apabila ia dapat menyelesaikan persoalan hidup yang nyata, bukan hanya dalam teori. Semakin seseorang terampil dan mampu menyelesaikan persoalan kehidupan yang situasinya bermacam-macam dan kompleks, semakin tinggi inteligensinya. Gardner membagi kecerdasan manusia dalam 9 kategori (Suparno, 2004), yaitu:

1. Inteligensi Linguistik (linguistic intelligence)

Inteligensi linguistik merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan kata-kata, baik secara lisan maupun tulisan, untuk mengekspresikan ide-ide atau gagasan-gagasan yang dimilikinya. Orang yang mempunyai kecerdasan linguistik tinggi akan berbahasa lancar, baik dan lengkap. Ia mudah untuk mengetahui dan mengembangkan bahasa dan mudah mempelajari berbagai bahasa.

2. Inteligensi Matematis-Logis (logic-mathematical intelligence)

Inteligensi matematis-logis merupakan kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan penggunaan bilangan dan logika secara efektif. Termasuk dalam kecerdasan ini adalah kepekaan pada pola logika, abstraksi, kategorisasi dan perhitungan.

3. Inteligensi Ruang (spatial intelligence)

Inteligensi ruang atau inteligensi ruang visual adalah kemampuan seseorang dalam menangkap dunia ruang visual secara tepat, seperti yang dimiliki oleh seorang dekorator dan arsitek. Yang termasuk dalam kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat, melakukan perubahan bentuk benda dalam pikiran dan mengenali perubahan tersebut, menggambarkan suatu hal/benda dalam pikiran dan mengubahnya dalam bentuk nyata serta mengungkapkan data dalam suatu grafik.

4. Inteligensi Kinestetik-Badani (bodily-kinesthetic intelligence)

Inteligensi kinestetik-badani merupakan kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan masalah. Orang yang mempunyai kecerdasan ini dengan mudah dapat mengungkapkan diri dengan gerak tubuh mereka. Apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan mudah dapat diekspresikan dengan gerak tubuh.

5. Inteligensi Musikal (musical intelligence)

Inteligensi musikal merupakan kemampuan untuk mengembangkan dan mengekspresikan, menikmati bentuk-bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik, menyanyi, menciptakan lagu dan menikmati lagu.

6. Inteligensi Interpersonal (interpersonal intelligence)

Inteligensi interpersonal merupakan kemampuan seseorang untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, motivasi, watak, temperamen, ekspresi wajah, suara dan isyarat dari orang lain. Secara umum, inteligensi interpersonal merupakan kemampuan seseorang untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan orang lain.

7. Inteligensi Intrapersonal (intrapersonal intelligence)

Inteligensi interpersonal merupakan kemampuan seseorang untuk mengerti tentang diri sendiri dan mampu bertindak secara adaptif berdasar pengenalan diri. Termasuk dalam inteligensi interpersonal adalah kemampuan seseorang untuk berefleksi dan menyeimbangkan diri, mempunyai kesadaran tinggi akan gagasan-gagasan, mempunyai kemampuan mengambil keputusan pribadi, sadar akan tujuan hidup dapat mengendalikan emosi sehingga kelihatan sangat tenang. Orang yang mempunyai kecerdasan interpersonal akan dapat berkonsentrasi dengan baik.

8. Inteligensi Lingkungan/Natural (natural intelligence)

Inteligensi lingkungan atau natural memiliki kemampuan mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat memahami dan menikmati alam dan menggunakannya secara produktif dalam bertani, berburu dan mengembangkan pengetahuan akan alam. Orang yang mempunyai kecerdasan lingkungan/natural memiliki kemampuan untuk tinggal di luar rumah, dapat berhubungan dan berkawan dengan baik.

9. Inteligensi Eksistensial (existential intelligence)

Inteligensi eksistensial lebih menyangkut pada kepekaan dan kemampuan seseorang dalam menjawab persoalan-persoalan terdalam mengenai eksistensi manusia. Orang yang mempunyai kecerdasan eksistensi mencoba menyadari dan mencari jawaban yang terdalam. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa aku ada? Mengapa aku mati? Apa makna hidup ini? Bagaimana manusia sampai ke tujuan hidup?

Menurut Gardner, dalam diri seseorang terdapat kesembilan kecerdasan tersebut, namun untuk orang-orang tertentu kadang suatu inteligensi lebih menonjol daripada yang lainnya. Inteligensi merupakan representasi mental, bukan karakteristik yang baik untuk menentukan orang macam apa mereka.

Selengkapnya...

Selamat (di) Tahun Baru

Selamat Tahun Baru!
Sugeng Warsa Enggal!
Happy New Year!

Selamat datang tahun 2009 yang sering dikaitkan dengan tahun ‘Kerbau’ (berarti pertanian maju nih..he..he..). Pada saat pergantian tahun 2008 ke tahun 2009, saya memiliki kesempatan untuk merenung. Apa yang saya renungkan? Saya tidak membatasi hanya dari sisi kehidupan saya saja, tetapi mencoba secara bebas untuk melihat apa saja yang telah terjadi di tahun 2008. Kesimpulannya tentu macam-macam karena saking banyaknya yang direnungkan...(he...he..). Tetapi jujur saja, ada satu hal yang menarik perhatian saya ketika waktu menunjukkan tepat pukul 00.00 wib, sampai-sampai perenungan yang saya lakukan terhenti. Terdengar suara petasan dan kembang api yang begitu keras dan berulang-ulang disertai bunyi terompet yang memekakkan telinga (maklum, merenung koq ya dipinggir jalan!). Satu saja pertanyaan yang melintas di benak saya, mengapa banyak orang harus ‘berpesta’ di waktu malam pergantian tahun? Bahkan mereka kelihatan sangat bersuka ria dengan petasan dan kembang api serta membunyikan terompet. Maka, seketika itu pula saya kembali merenung...(kalo yang ini serius...). Satu hal yang saya tanyakan kepada diri saya sendiri adalah, ”Bukankah esok pagi matahari juga tetap terbit dari timur? Dan hari baru yang disambut juga seperti hari-hari biasanya? Bukankah tidak ada yang spesial (sebenarnya lho), kita tetap harus menjalani kehidupan dan tetap berjuang, berkarya, dst. Maka, dengan cepat diri saya bergumam dalam hati,...ya! Bukankah orang-orang telah melakukan sebuah ‘ritual’ atau pesta secara ‘imajiner’??? Mereka mempunyai imajinasi bahwa pergantian tahun identik dengan ‘pisah-sambut’ (ato kalo di café sering diadakan acara ‘old and new’) yang tentunya sering dibumbui dengan pesta! Sebuah imajinasi yang sangat luar biasa bahkan kesannya terlalu berlebihan (kalo inget bahwa saat ini kita masih dalam masa krisis multi-dimensi). Seketika itu saya kembali sadar dan meninggalkan perenungan saya, sambil sesekali larut dalam suasana pergantian tahun yang hingar bingar...

Meninggalkan tahun 2008 tentunya harus disambut dengan penuh ucapan syukur atas penyertaan-Nya yang begitu ‘luar biasa’ telah memberikan berbagai warna dalam kehidupan kita. Bahkan, sampai dengan saat ini kita masih diberikan ‘selamat’ (meliputi kebahagiaan, kedamaian, kesehatan, rejeki, dll) di tengah badai krisis yang melanda dunia ini. Itulah yang sebenarnya bisa kita jadikan alasan mengapa kita harus ber-’pesta’. Pada saat kita bersyukur, tentunya kita juga tetap berharap agar ‘selamat’ dari pada-Nya tetap menaungi dan melingkupi diri kita dalam mengarungi tahun 2009 nanti. Ketika kita yakin bahwa ‘selamat’ dari-Nya ada dalam diri kita, maka rasa optimis menjadi modal berharga dalam menghadapi badai krisis multi-dimensi yang tengah melanda dunia. Semoga kita tetap ‘selamat’ pada saat krisis moral, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, dll (kayak di P4 ya...) melanda ditengah-tengah kehidupan ini. Tidak lupa, saya juga menyampaikan wejangan dari Eyang Slamet...”jadilah terang bukan di tempat yang terang...jadilah harapan bagi sesama, bukan hanya selalu berharap!” Intinya, meski kita berada di alam krisis seperti saat ini, tetaplah berkarya bagi kebaikan umat-Nya...(gitu sih yang saya tangkep).
Akhirnya, sekali lagi..., Selamat Tahun Baru! dan Selamat di Tahun Baru!!!
GBU.

Selengkapnya...

Kontroversi Mengenai UU BHP

Beberapa hari ini banyak sekali demo mahasiswa menolak UU BHP. Geliat demo mahasiswa terasa sampai ke penjuru tanah air. Lalu apa sebenarnya isi UU BHP dan bagaimana implementasinya di dunia pendidikan nasional kita? Berikut ringkasannya, semoga bermanfaat.

Fungsi BHP [pasal 2]:
memberikan pelayanan pelayanan formal kepada peserta didik

Tujuan BHP [pasal 3]:
memajukan satuan pendidikan dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah dan otonomi perguruan tinggi

Versi Mahasiswa:
Mahasiswa menilai pengesahan RUU BHP menjadi UU merupakan upaya komersialisasi pendidikan. Akibatnya, pendidikan akan semakin mahal dan membebani masyarakat, terutama dari kalangan tidak mampu.

Mahasiswa juga memprotes ketentuan dalam UU BHP soal pembubaran badan hukum pendidikan, yang salah satunya karena dinyatakan pailit. Ini dinilai sebagai bukti sekolah akan dikelola seperti perusahaan.

Sementara itu, Aliansi Rakyat Tolak BHP menolak dengan alasan UU BHP menggunakan pendekatan ekonomi pasar bebas yang menganalogikan pendidikan sebagai komoditas ekonomi. Pemerintah dinilai hendak melepaskan tanggung jawab untuk memenuhi hak warga negara atas pendidikan.

Versi Anggota Dewan:

Ketua Komisi X DPR Irwan Prayitno membantah anggapan, UU BHP akan membuat pendidikan di Indonesia menjadi semakin tidak terjangkau. Peraturan ini justru diyakini bisa memberi perlindungan pada masyarakat untuk tidak lagi dipungut biaya pendidikan yang tinggi.

Fasli Jalal, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas:

Ada kewajiban dari BHP dan pemerintah untuk menyediakan beasiswa, bantuan biaya pendidikan, kredit pendidikan mahasiswa, dan pemberian pekerjaan kepada mahasiswa. Selain itu, BHP wajib menjaring dan menerima siswa berpotensi akademik tinggi dan kurang mampu secara ekonomi, sekurangnya 20 persen peserta didik baru.

Selengkapnya...

Peran Orangtua Membimbing Anak Menghadapi Dunia Pengajaran

KATA pendidikan selalu dipakai dalam dua arti: pendidikan (education, opvoeding) dan pengajaran (teaching, onderwijs).

Kita melihat, di TK masih pendidikan melulu, bahkan pengajaran dilarang. Di SD sudah ada pengajaran, seperti berhitung, menulis, membaca, sampai di kelas lima dan kelas enam sudah lebih banyak pengajaran daripada pendidikan. Di sekolah menengah (SLTP, SMU, dan SMK) hampir seluruhnya lebih ditekankan pada pengajaran. Pendidikan untuk menciptakan suasana belajar.

Oleh karena akhir-akhir ini, di mana-mana di dunia, kurikulum dan silabus di sekolah menengah begitu berat hingga tidak ada waktu untuk pendidikan, maka dikembangkan sebuah pedagogi baru yang menekankan pengajar harus mendidik para pelajar lewat mengajar (Lihat J Drost, SJ, Proses Pembelajaran sebagai Proses Pendidikan, Grasindo 1999).

Peran orangtua dalam membimbing adalah sebagai pendidik utama, termasuk membimbing anak menghadapi dunia persekolahan. Karena proses pembelajaran berlangsung lewat lembaga sekolah, bimbingan nyata dari orangtua ialah menyiapkan anak-anak untuk akhirnya masuk ke perguruan tinggi. Dan, saya kira, hanya untuk beberapa anak masuk dunia kerja. Namun, kepada mereka semua dituntut kedewasaan dan kemandirian yang sama.

Anak dibimbing, apa tujuannya?

Tujuan pendidikan (sama dengan bimbingan) dan pengajaran ialah membantu anak menjadi dewasa mandiri dalam kehidupan bermasyarakat. Anak mencapai kematangan, baik intelektual maupun emosional, untuk dapat menempuh belajar tersier (akademi atau profesional). Teras dari kematangan itu adalah kemampuan bernalar dan bertutur yang telah terbentuk. Ia mampu secara bebas menyampaikan pendapatnya dengan kritis. Ia mampu menilai kesimpulan-kesimpulan tanpa terbawa arus perasaan. Ia menjadi orang yang berkomitmen, berani melibatkan diri. Ia mempunyai rasa keterbilangan (sense of belonging). Ia menjadi manusia bebas; bebas memilih belajar, bebas memilih karier, bebas memilih cara hidup, bebas memilih teman hidup, bebas lepas dari bimbingan orangtua.

Itulah tujuan usaha orangtua. Kenyataan itu merupakan sesuatu yang paling berat bagi seorang ibu di mana pun di dunia ini.

Kembali kepada yang dibimbing. Anak adalah manusia muda yang akan didewasakan, bukan dewasa kecil yang akan dibesarkan. Let boys be boys and girls be girls, they are not small adult. Anak itu akan dibimbing orangtua menjadi pribadi dewasa dan mandiri, khususnya pada bidang menghadapi sekolah.

Seorang pembimbing harus mulai dengan mengenal siapa yang akan dibimbing, lalu menerimanya sebagaimana adanya. Itu berarti, secara nyata orangtua harus menerima anak mereka. Anak yang tidak diterima orangtua tidak dapat dibimbing menjadi seorang dewasa yang berbahagia. Anak perlu diterima apa adanya; entah pandai, entah biasa, entah lemah, terbuka atau tertutup, lasak atau pendiam, alim atau nakal. Anak itu lahir sebagai anak itu. Anak itu harus diterima, lalu dibentuk menjadi manusia dewasa. Kenyataan dan tuntutan itu akan menentukan cara dan bentuk bimbingan bagi anak untuk menghadapi pengajaran dan pendidikan di sekolah.

Demi lengkapnya bahasan saya, akan saya sebut beberapa kesalahan yang cukup sering dibuat orangtua:

* Menuntut TK mengajarkan berhitung dan membaca, dan menuntut SD mengajarkan bahasa Inggris.

* Menyuruh anak SD yang peringkatnya biasa-biasa saja mengikuti bimbingan belajar dan mencarikan guru les untuk meningkatkan peringkatnya.

* Memaksa anak TK dan SD masuk les musik dan tari, padahal anak tidak berbakat.

* Mencarikan anak SLTP guru-guru les supaya peringkatnya tinggi.

* Memaksa anak SLTP masuk SLTA yang terlalu berat.

Itu semua bentuk tidak menerima anak apa adanya. Anak bukan anak itu lagi, tetapi rekaan orangtua. Tidak lagi demi kebahagiaan anak, tetapi demi kepuasan orangtua. Itu bukan bimbingan, melainkan penggiringan.

Jadi, secara positif orangtua yang ingin membimbing anak menghadapi dunia persekolahan harus menerima apabila, misalnya, di SD anak tidak bisa menjadi juara sekolah. Anak dibantu, kalau bisa oleh ibunya sendiri, supaya anak tetap merasa kerasan di sekolah. Bukannya anak dituntut yang tidak-tidak, tetapi anak diberi semangat. Anak yang pandai tidak perlu lebih dipuji dan lebih dihargai daripada adiknya atau kakaknya yang tidak begitu pandai. Pada waktu masuk sekolah menengah, mohon pendapat kepada kepala sekolah mengenai potensi belajar anak. Anak dicarikan SLTP, dan lebih-lebih SLTA, yang sesuai dengan potensi belajar anak.

Itu semua tidak berarti bahwa bimbingan anak serba boleh. Sama sekali tidak. Bimbingan harus tegas. Yang dapat dan perlu dituntut harus dituntut. Anak pandai yang malas belajar jangan dibiarkan malas. Perlu tegas. Namun, kalau tetap malas, orangtua perlu menghubungi seorang ahli bimbingan dan konseling atau seorang psikolog untuk mengetahui ada masalah apa pada anak itu.

Bimbingan juga didasarkan atas kepercayaan pada anak, bukan atas kecurigaan. Bimbingan orangtua harus disesuaikan keadaan dan kemampuan nyata si anak. Yang pasti juga, apabila anak bersalah, anak tidak langsung dimarahi atau dihukum begitu saja.

Pola pendidikan yang tidak memberi kesempatan kepada anak untuk membuat kesalahan adalah pola pendidikan yang salah. Apabila karena setiap kesalahan anak langsung ditindak, itu berarti anak dididik menjadi penakut yang tidak pernah berani berinisiatif. Tunggu komando. Orang semacam itu tidak perlu bertanggung jawab karena hanya pembeo. Apabila anak salah, anak harus diberi tahu apa yang salah dan dibantu untuk memperbaiki kesalahannya. Dengan demikian, ia belajar dari kesalahan-kesalahannya. Namun, apabila setelah dibimbing ia tetap nekat membuat kesalahan, anak itu perlu ditindak.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa orangtua perlu menghargai pribadi seorang anak. Anak berhak memohon didekati penuh hormat. Anak pun memiliki hak-hak asasi dalam keluarga, di sekolah, dan di masyarakat. Kendati masih amat bergantung pada orang lain, masih lemah, ia harus tetap diperlakukan sebagai seorang pribadi.

Apabila orangtua lupa akan hal itu, akan timbul banyak konflik karena patokan, kriteria, dan tolok ukur yang dipakai tidak cocok bagi si anak. Sering dilupakan, daripada memberi perintah, lebih baik orangtua mengajukan permintaan. Setelah anak menyelesaikan apa yang diminta, kepadanya orangtua mengucapkan terima kasih.

Sekarang ingin saya membicarakan unsur bimbingan yang lebih sukar dirumuskan. Seorang pelajar baru bisa berhasil di sekolah apabila ia kerasan di sekolah. Ia mengetahui bahwa nilai-nilai pada rapor hasil pekerjaannya dan tidak dikurangi karena nakal. Semua ulangan dikembalikan. Boleh protes. Tidak ada anak emas dan anak tiri. Guru-guru sungguh baik dan pandai sebagai guru. Sekolah baginya tempat yang aman. Kerasanlah dia. Kalau ini berlaku untuk sebuah sekolah, apalagi untuk rumah. Hanya anak yang benar-benar mengalami rumah, keluarga sebagai home, akan menerima bimbingan guna menghadapi dunia persekolahan. Dan ini berlaku pula untuk anak orang tua yang sudah mahasiswa. Sebab, apa ada mahasiswa dari Jakarta yang ada pondok di Depok hampir setiap malam pulang? Home, itu bukan sejumlah fasilitas yang mewah. Mereka kerasan karena merasa aman, merasa dilindungi, dan yang penting merasa dihargai, mengetahui bahwa pandangan dan pendapatnya didengar dan bisa diterima. Yang paling penting, orangtua merupakan pegangan hidup.

Wibawa ayah. Karena penuh respek terhadap istrinya yang ibunya anak-anaknya. Kebijaksanaan mencari penyelesaian apabila timbul beda pendapat mengenai sikap terhadap anak. Andalan dan tumpuan keluarga karena sikap tegas baik di rumah maupun dalam pekerjaannya. Terbuka terhadap anak yang sudah mulai besar mengenai masalah-masalah intern keluarga maupun dalam tugas dan usaha-usaha sehari-hari. Juga mengenai masalah keuangan. Wibawa ibu. Penuh hormat terhadap suaminya. Pencipta suasana. Penuh cinta, tetapi tetap tegas. Terbuka terhadap semua masalah anak, tetapi tidak permisif, semua serba boleh. Penuh perhatian, namun, yang perlu dituntut, memang dituntut. Tabah waktu penderitaan dan musibah melanda keluarga. Penanam sikap memperhatikan dan memedulikan orang lain.

Pendek kata, keluarga yang menghargai pribadi masing-masing. Kendati anak masih bergantung pada orangtua, ia harus diperlakukan sebagai pribadi. Pengalaman saya, makin memiliki home, sarang hangat, makin ia akan berhasil menyelesaikan semua tuntutan dari dunia persekolahan yang sesuai dengan kemampuan intelektual, bakat, dan minatnya.

J Drost Ahli Pendidikan, Tinggal di Semarang

Selengkapnya...

Budaya Organisasi Sekolah

BUDAYA dalam konteks organisasi disebut dengan budaya organisasi (organizational culture). Dalam konteks perusahaan, diistilahkan dengan budaya perusahaan (corporate culture), dan pada lembaga pendidikan/sekolah disebut dengan budaya sekolah (school culture). Tentu saja berbeda dengan kajian budaya antropologi sosial atau organisasi perusahaan, dalam organisasi sekolah fokusnya pada perilaku, sehingga memunculkan kajian perilaku organisasi (organizational behavior).

Sebagaimana diketahui, dalam suatu organisasi di samping terdapat hal-hal yang bersifat hard juga ada yang sifatnya soft. Aspek-aspek termasuk hard antara lain adalah: struktur organisasi, aturan-aturan, kebijakan, teknologi, dan keuangan. Hal- hal tersebut dapat diukur, dikuantifikasikan serta dikontrol dengan relatif mudah. Se-dangkan hal-hal yang soft adalah yang terkait dengan the human side of organizational (aspek manusiawi dalam organisasi), meliputi nilai-nilai, keyakinan, budaya, serta norma-norma perilaku (Owens, 1995: 81).

Pada latar sekolah, budaya organisasi sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, persepsi, pikiran-pikiran atau ide-ide, perilaku yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah dan diyakini oleh warga sekolah serta berfungsi sebagai suatu pedoman dalam memecahkan masalah-masalah di sekolah (Zamroni, 2003; Nasution, 1987). Karena dipengaruhi oleh visi dan misi serta tujuan, maka budaya sekolah bersifat unik. Walaupun sekolah itu sejenis, namun budayanya akan berbeda. Karena itu budaya sekolah disebut juga dengan sifat-sifat internal sekolah yang dapat membedakannya antara satu sekolah dengan lainnya.

Asumsi semula, kultur suatu bangsa diduga sebagai faktor penentu kualitas sekolah, namun berbagai penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan tidak sebesar yang diduga selama ini. Bukti terakhir dari hasil The Third International Math and Science Study (TIMSS) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang dan Belgia sama-sama menempati ranking atas untuk mata pelajaran Matematika, padahal kultur kedua negara tersebut berbeda. Saatnyalah sekarang pengelola pendidikan lebih memfokuskan kultur sekolah sebagai faktor penentu prestasi sekolah. Ajakan Sergiovanni (1995) terhadap sekolah-sekolah Amerika pada waktu itu dengan statement: "Building The Charakter of Your School Culture. Perlu kita sambut.

Pendekatan konvensional peningkatan mutu pendidikan melalui penataran guru, penyediaan buku, pengadaan alat laboratorium, dan perbaikan gedung, tidak secara meyakinkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Bahkan beberapa penelitian yang berhasil di-review oleh Suryadi (1994) menyimpulkan bahwa penataran guru yang dilakukan selama ini sangat kecil, bahkan hampir tidak signifikan dampaknya terhadap prestasi belajar murid, apalagi jika diukur dari perbandingan biaya dan manfaat (efisiensi). Yang lebih penting sebenarnya jangan terlalu banyak membebani guru pada tugas-tugas administratif seperti kegiatan pembuatan laporan tahunan/tengah tahunan, rapat koperasi, mewakili sekolah dalam rapat panitia porseni, membuat isian blanko data guru dll., sehingga menyita waktu produktif guru, sedangkan persiapan mengajar, membaca buku dan sumber-sumber bacaan terabaikan.

Studi-studi tentang budaya sekolah yang di lansir oleh Zamroni (2003) menemukan bahwa kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi terhadap (a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi, (b) sikap dan motivasi kerja guru, dan (c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. Analisis kultur sekolah sebaiknya dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. Artinya, budaya sekolah dapat dijelaskan melalui pola nilai-nilai, sikap, pikiran-pikiran, dan perilaku warga sekolah yang tercermin pada (a) motivasi berprestasi, (b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi warga sekolah, (c) pemahaman terhadap tujuan sekolah, (d) visi organisasi yang kuat, (e) partisipasi orang tua siswa, (f) kerjasama yang padu diantara guru.

Ragam Nilai dalam Budaya

Secara bahasa "keunggulan" berarti keadaan (lebih) unggul, keutamaan; kepandaian (kecakapan, kebaikan, kekuatan, dan sebagainya) lebih dari yang lain (Depdikbud, 2005). Dari pengertian tersebut, hakikat nilai keunggulan terletak pada adanya pembanding antara satu hal (kinerja, kemampuan, prestasi atau benda) yang satu lebih bernilai dari yang lain. Perbandingan dimaksud antara prestasi (kemampuan) seorang siswa dengan siswa lain, sekelompok siswa dengan kelompok yang lain, seorang/kelompok guru dengan guru yang lain, atau satu sekolah dengan sekolah lain.

Nilai keunggulan (excellence) ini termuat dalam dua bentuk yaitu, perilaku dan raga (fisik). Perilaku yang memuat nilai keunggulan adalah perilaku yang secara komparatif lebih baik (etis) serta lebih berhasil guna (utility) dibanding perilaku yang lain. Perilaku dimaksud dapat ditunjukkan dalam penguasaan berbagai hal (pengetahuan dan keterampilan). Pada bentuk fisik, nilai keunggulan termuat dalam benda yang lebih indah (estetis) atau lebih berguna dibanding yang lain. Dari segi statusnya, nilai keunggulan dapat dikategorikan sebagai nilai terminal (unggul itu sendiri memiliki nilai), sekaligus nilai instrumental (melalui keunggulan dapat dicapai hal-hal lain, seperti kebanggaan, hadiah, popularitas dan sebagainya.

Studi yang dilakukan Hariyadi (2004) terhadap tiga sekolah unggul di Salatiga menemukan ciri-ciri sekolah unggul sebagai berikut; (a) nilai prestasi dan persaingan, (b) nilai keefektifan, (c) kedisiplinan, (d) kemandirian, (e) prestise (kebanggaan). Prestasi dan persaingan merupakan dua nilai terpisah, namun keduanya dapat dipasangkan. Prestasi diukur dengan standar pencapaian, sedangkan persaingan diukur dengan membandingkan prestasi seorang anak dengan anak lain, atau satu sekolah dengan sekolah lain. Keefektifan terwujud dalam pelaksanaan kerja, baik siswa, guru maupun sekolah secara institusional. Keefektifan sekolah juga ditandai oleh kepemimpinan pengajaran yang kuat, fokus hasil belajar yang jelas, ekspektasi yang tinggi terhadap siswa, lingkungan yang nyaman dan teratur. Kedisiplinan, esensi nilai kedisiplinan terkait dengan ketepatan waktu dan kepatuhan terhadap tata tertib atau peraturan. Kemandirian, merupakan kemampuan serta keberanian mengambil keputusan dan siap menanggung risiko atas keputusannya. Dalam kehidupan individu atau kelompok, kemandirian tidak berarti isolasi, eksklusifisme, akan tetapi sebaliknya ia bercirikan keterbukaan, interdependensi, kepedulian, kerjasama dan harga diri. Prestise, nilai ini yang melekat dengan status, yaitu status sekolah yang memiliki reputasi, gengsi, dan nama baik. Siswa, orang tua, maupun guru menjadi bagian dari sekolah tersebut, maka dalam diri mereka juga merasa bangga terhadap reputasi sekolah.

Secara singkat, nilai utama yang memberikan sumbangan terbesar bagi budaya sekolah adalah nilai keunggulan. Nilai keunggulan telah meresap atau tercermin dalam citra diri (self image) seluruh warga sekolah, terutama para siswa dan guru. Dengan memiliki citra diri, mereka memiliki motivasi kerja yang tinggi untuk mempertahankan keunggulan yang diraih.


Selengkapnya...

E-Learning: di Era Informasi

Apa itu e-learning

Marc J. Rosenberg, seorang pakar e-learning nomor satu di dunia, menyebut e-learning sebagai "the use of Internet technologies to deliver a broad array of solutions that enhance knowledge and performance", atau "Penggunaan teknologi Internet untuk menyampaikan berbagai macam solusi untuk meningkatkan pengetahuan dan kinerja". Jadi e-learning ini mengacu pada kegiatan pembelajaran atau transfer informasi dan skill dengan menggunakan media Internet dan/atau Teknologi Informasi (TI) secara umum.

Sebagian dari kita mungkin sudah pernah melakukan pencarian informasi, membaca artikel, melihat sebuah demo aplikasi, atau berpartisipasi dalam diskusi melalui internet. Secara tidak langsung apa yang telah kita lakukan tersebut merupakan sebagian kecil aktivitas-aktivitas e-learning. Bila Anda sedang menggunakan aplikasi Microsoft Word lalu Anda membuka menu "Help" untuk mencari sesuatu yang anda tidak mengerti dan belajar dari sana, maka Anda juga sudah melakukan aktivitas e-learning dalam bentuk yang paling sederhana.

Anda mungkin juga pernah menjumpai bentuk materi pelajaran atau pelatihan yang dikemas dalam suatu program aplikasi, yang disusun dengan desain instruksi khusus, dengan menggunakan animasi, simulasi serta tampilan dan navigasi yang menarik, yang disampaikan melalui Internet. Ini juga adalah salah satu bentuk materi e-learning yang lebih kompleks.

Jadi, secara tidak langsung, kita sebenarnya telah mengenal dan mempraktekan e-learning. Akan tetapi, e-learning dalam suatu organisasi bukan sekedar menyediakan akses Internet, mempunyai website, atau membeli materi-materi interaktif, akan tetapi e-learning sebagai bagian yang terintegrasi dengan program pelatihan organisasi Anda, adalah perpaduan dari perubahan cara pandang, kultur belajar, sistem manajemen pembelajaran, materi pelatihan dan manajemen sumber daya manusia di organisasi Anda.

Fenomena E-learning

Di negara maju, penggunaan e-learning saat ini benar-benar telah menjadi suatu fenomena yang luar biasa, sampai-sampai John Chambers, CEO dari Cisco Systems mengatakan bahwa e-learning adalah "the next killer application" atau aplikasi besar berikutnya.

Perusahaan-perusahaan dunia telah banyak yang mengadopsi penggunaan e-learning untuk para karyawannya. Survey yang diadakan oleh ASTD (American Society for Training & Development) di tahun 2004 mengungkapkan bahwa hampir 60% perusahaan di Amerika telah atau mulai mengimplementasikan e-learning di perusahaan mereka. Bayangkan pesatnya kemajuan e-learning ini, mengingat bahwa e-learning ini masih seumur jagung saja.

Tidak hanya di organisasi bisnis, e-learning juga telah melanda dunia akademis. Di Amerika Serikat sendiri, e-learning telah digunakan di hampir 90% universitas yang memiliki lebih dari 10,000 siswa. Gerhard Casper, presiden dari Stanford University di AS, juga menyatakan yakin bahwa dalam waktu sepuluh tahun ke depan, pendidikan akan berganti dari pendidikan di kelas ke pendidikan online.

Di Indonesia, e-learning sudah mulai diterapkan oleh beberapa perusahaan dan akademis. Contohnya Bank Mandiri telah meluncurkan Learning Management System (LMS) dan pelajaran-pelajaran e-learning untuk melatih sekitar 18 ribu orang karyawannya yang tersebar di hampir 700 kantor cabang. Selain itu PT. SAP Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia dan IBM Indonesia juga telah menerapkan e-Learning untuk mengembangkan sumber daya manusia mereka.

Keunggulan e-Learning

Mengapa e-learning dapat diterima dan diadopsi dengan begitu cepatnya? Tentu saja kemajuan penggunaan e-learning dimotivasi oleh kelebihan dan keunggulan yang bisa diperoleh:

  • Pengurangan biaya. E-learning dapat mengurangi biaya pelatihan, karena untuk melatih karyawan dalam jumlah besar, perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya kelas, biaya untuk pelatih, biaya transportasi, dan berbagai macam biaya lainnya.
  • Fleksibilitas. Dapat belajar kapan dan dimana saja, selama si karyawan terhubung dengan Internet.

  • Personalisasi. Karyawan dapat belajar sesuai dengan kemampuan belajar mereka. Bila karyawan belum mengerti, maka ia dapat memperlambat penjelasan atau mengulang suatu pelajaran. Bila seorang siswa dapat mengerti dengan cepat, maka ia dapat menyelesaikan pelajaran tersebut dengan lebih cepat

  • Standardisasi. Standardisasi kualitas pengajaran. Setiap pelatih di kelas cenderung memiliki cara mengajar, materi presentasi dan penguasaan materi yang berbeda sehingga kualitas pengajaran yang didapat pun tidak konsisten. Akan tetapi, e-learning mampu meminimalkan perbedaan cara mengajar dan materi, sehingg memberikan standard kualitas yang lebih konsisten.

  • Efektivitas. Efektivitas pelajaran melalui metoda e-learning umumnya meningkat. Suatu studi oleh J.D. Fletcher menunjukkan bahwa tingkat retensi dan aplikasi dari pelajaran melalui metoda e-learning meningkat sebanyak 25% dibandingkan pelatihan yang menggunakan cara tradisional.

  • Kecepatan. Kecepatan distribusi materi pelajaran akan meningkat, karena pelajaran tersebut dapat dengan cepat disampaikan melalui Internet. Keuntungan ini sangat cocok sekali untuk kondisi geografis Indonesia, dimana suatu perusahaan atau organisasi dapat memiliki kantor-kantor cabang di berbagai daerah yang berjauhan.

Hambatan dan Keterbatasan e-Learning

Di dalam penerapannya di Indonesia, e-learning juga memiliki beberapa keterbatasan dan kendala yang harus diwaspadai, seperti sebagai berikut

  • Investasi. Walaupun e-learning pada akhirnya dapat menghemat biaya pelatihan, akan tetapi memerlukan investasi yang sangat besar pada permulaannya. Sehingga bila tidak dikelola dengan baik akan mengakibatkan kerugian besar. Investasi ini dalam bentuk kapital atau pun sumber daya manusia,
  • Budaya. Pemanfaatan e-learning membutuhkan budaya belajar mandiri dan kebiasaan untuk belajar atau mengikuti pelatihan melalui komputer, dimana hal ini baru dimiliki oleh sebagian kecil sumber daya manusia kita. Oleh karena itu, change management yang handal sangat diperlukan untuk menjamin kesuksesan penerapan e-learning ini

  • Teknologi dan Infrastruktur. E-learning membutuhkan perangkat komputer, jaringan yang handal, dan teknologi yang tepat. Akan tetapi, ketersediaaan infrastruktur dan teknologi ini masih belum memadai bagi beberapa perusahaan.

  • Desain Materi. Penyampaian materi dalam bentuk e-learning, tentu berbeda dengan penyampaian materi dalam training konvesional. Penyampain materi melalui e-learning perlu dikemas dalam bentuk yang learner-centric. Saat ini masih sangat sedikit instructional designer yang berpengalaman dalam membuat suatu paket pelajaran e-learning yang memadai.

Seringkali hambatan dan keterbatasan e-learning tersebut membuat implementasi e-learning di Indonesia berjalan dengan sangat lamban. Bahkan, tidak jarang hambatan tersebut membawa perusahaan pada kegagalan implementasi yang merugikan perusahaan jutaan dollar atau miliaran rupiah.

Walaupun terdapat keterbatasan dan hambatan di Indonesia, penerapan e-learning di dunia, termasuk di negara tetangga terus melaju pesat. Para praktisi pelatihan di dunia sudah tidak meragukan akan meledaknya penggunaan e-learning di dunia, mereka hanya tinggal menunggu waktunya. Semua perusahaan-perusahaan kelas dunia telah bergerak ke arah e-learning ini.

Written by Empy Effendi

Selengkapnya...

Faktor-Faktor dalam Proses Belajar

Faktor Internal

Faktor-faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu, antara lain:

A. Faktor Fisiologis

Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu: pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat mempengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Kedua, fungsi fisiologis/jasmani. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama pancaindra. Pancaindra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. Dalam proses belajar, pancaindra merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia, sehingga manusia dapat mengenal dunia luar.

B. Faktor Psikologis

Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.

Kecerdasan/Inteligensia Siswa

Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh yang lain. Namun, otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ lain, karena fungsi otak adalah sebagai pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh aktivitas manusia. Semakin tinggi tingkat inteligensi seorang individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat inteligensi individu, semakin sulit individu itu mencapai kesuksesan belajar.

Motivasi

Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasi mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Dari sudut sumbernya, motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi Instrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Contohnya, seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena membaca tidak hanya menjadi aktivitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah menjadi kebutuhannya. Motivasi Ekstrinsik adalah semua faktor yang dating dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orang tua, dan lain sebagainya. Kurangnya respon dari lingkungan secara positif akan mempengaruhi semangat belajar seseorang menjadi lemah.

Minat

Secara sederhana minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, minat memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar. Karena jika seseorang tidak memiliki minat untuk belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Untuk membangkitkan minat belajar siswa ada banyak cara yang bisa digunakan. Salah satunya adalah dengan membuat materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak membosankan.

Sikap

Dalam proses belajar, sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk memberi reaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negative (Syah, 2003). Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran atau lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, guru berperan dan berusaha untuk menyajikan pelajaran yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan; meyakinkan siswa bahwa bidang studi yang dipelajari bermanfaat bagi diri siswa.

Bakat

Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994)mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk belajar. Dengan demikian, bakat adalah kemampuan seseorang yang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.


Faktor Eksternal

Faktor-faktor ekternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu, antara lain:

A. Faktor Lingkungan Sosial

Meliputi lingkungan sosial sekolah (guru, administrasi, teman-teman sekelas), lingkungan sosial masyarakat (tempat tinggal siswa), Lingkungan sosial keluarga (Ketegangan di dalam keluarga, sifat-sifat orang tua, pengelolaan keluarga). Semuanya itu dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.

B. Faktor Lingkungan NonSosial

Meliputi faktor lingkungan alamiah (kondisi udara segar, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, sinar yang tidak terlalu silau atau bahkan tidak terlalu gelap, dll ), faktor instrumental (perangkat belajar seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, kurikulum, peraturan sekolah, buku panduan, dll), faktor materi pelajaran (bahan yang akan diajarkan ke siswa, hendaknya sesuai dengan usia perkembangan, metode dan kondisi siswa). Semuanya itu dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.

Selengkapnya...

Apa Sih Belajar itu???

Hakikat Belajar

Belajar merupakan proses menusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, ketrampilan dan sikap. Belajar dimulai sejak manusia lahir sampai akhir hayat. Pada waktu bayi, seorang bayi menguasai ketrampilan-ketrampilan yang sederhana, seperti memegang botol dan mengenal orang-orang disekelilingnya. Ketika menginjak masa anak-anak dan remaja, sejumlah sikap, nilai dan ketrampilan berinteraksi social dicapai sebagai kompetensi. Pada saat dewasa, individu diharapkan telah mahir dengan tugas-tugas kerja tertentu dan ketrampilan-ketrampilan fungsional lainnya, seperti mengendarai kendaraan atau mobil, berwiraswasta dan menjalin kerja sama dengan orang lain.

Pengertian Belajar

Menurut Hilgrad dan Bower, belajar (to learn) memiliki arti: 1) to gain knowledge, comprehension, or mastery of trough experience or study; 2) to fixin the mind or memory; 3) to acquire trough experience; 4) to become in forme of to find out. Menurut definisi tersebut, belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian, belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.

Menurut Cronbach, "Learning is shown by change in behavior as result of experience". Belajar yang terbaik adalah melalui pengalaman. Dengan pengalaman tersebut pelajar menggunakan seluruh pancaindranya. Pernyataan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Spears (1955), yang menyatakan bahwa, "Learningis to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction". Morgan dan kawan-kawan (1986), manyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman.

Ciri-Ciri Belajar
  • Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change behavior). Ini berarti, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku, yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil.
  • Perubahan perilaku relative permanent. Ini berarti, bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah.
  • Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial.
  • Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman.
  • Pengalaman atau latihan dapat memberi penguatan. Sesuatu yang memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku.

Prinsip-Prinsip Belajar

  • Apapun yang dipelajari oleh siswa, dialah yang harus belajar, bukan orang lain. Untuk itu, siswalah yang bertindak aktif.
  • Setiap siswa belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya.
  • Siswa akan dapat belajar dengan baik bila mendapatkan penguatan langsung pada setiap langkah selama proses belajar berlangsung.
  • Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan siswa akan membuat proses belajar lebih berarti.
  • Motivasi belajar siswa akan lebih meningkat apabila ia diberi tanggung jawab dan kepercayaan penuh atas belajarnya.

Selengkapnya...

blogger templates | Make Money Online